Jejak Sajadah, Dari Gurun Pasir ke Rumah Kita

Avatar photo

LOPINEWS __ Sajadah adalah alas ibadah yang digunakan umat Islam saat melaksanakan salat. Bentuknya berupa selembar kain atau karpet dengan ukuran yang beragam, menyesuaikan kebutuhan dan postur tubuh saat bersujud. Fungsi utamanya untuk menjaga kebersihan dan kesucian tempat salat, sehingga terhindar dari najis. Karena itu, alas kaki harus dilepas sebelum menggunakan sajadah.

Kata sajadah berasal dari bahasa Arab sajjadah, yang berarti alas untuk bersujud. Selain menjaga kebersihan, sajadah juga berfungsi sebagai penanda batas tempat salat agar orang lain tidak melintas di depan orang yang sedang beribadah.

Sajadah banyak dibuat oleh para penenun di berbagai daerah. Motifnya sering mencerminkan asal wilayah pembuatnya. Umumnya dihiasi pola geometris, motif bunga, atau gambar bangunan penting dalam Islam seperti Ka’bah. Ada pula hiasan simbol keagamaan sebagai pengingat nilai-nilai spiritual. Namun, dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan menampilkan gambar makhluk bernyawa pada sajadah.

Sejarah sajadah bermula sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, Rasulullah pernah salat di atas khumrah, yaitu tikar kecil yang terbuat dari anyaman daun kurma. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah pernah salat dan sujud di atas tikar. Pada masa awal, alas tersebut digunakan untuk melindungi tubuh dari panasnya pasir gurun serta menjaga kebersihan saat beribadah. Selain untuk salat, tikar juga dimanfaatkan sebagai alas duduk atau tempat beristirahat.

Memasuki abad Pertengahan, penggunaan sajadah semakin berkembang, terutama di Kairo, Mesir. Awalnya lebih banyak digunakan oleh kalangan berada, khususnya saat salat Jumat. Desain awal sajadah biasanya menyerupai mihrab, yaitu bentuk lengkungan seperti pintu yang melambangkan pintu menuju surga. Seiring waktu, sajadah berkembang menjadi bagian dari seni dan budaya Islam dengan berbagai bahan seperti wol, sutra, dan kain tenun.

Di Indonesia, perkembangan sajadah tidak lepas dari masuknya budaya Islam melalui jalur perdagangan, termasuk dari Persia. Karena itu, sajadah zaman dahulu banyak menampilkan gambar masjid dengan kain yang halus dan licin. Selain Persia, pengaruh budaya Tiongkok, Gujarat, dan wilayah lain turut memperkaya motif dan kerajinan sajadah di Nusantara, termasuk seni sulaman dan pembuatan karpet.

Pada era 1990-an, sajadah bergambar Masjidil Haram dan Hagia Sophia cukup populer dan banyak digunakan di masjid maupun rumah. Kini, sajadah hadir dengan beragam desain dan bahan yang menyesuaikan perkembangan zaman serta budaya setempat.  Ada yang dilengkapi Kompas sampai tulisan inisal nama. Meski bentuk dan motifnya terus berubah, fungsi utamanya tetap sama, yaitu sebagai alas suci untuk mendukung kekhusyukan dalam beribadah.