Tarian Sufi Whirling Dervish Hidupkan Suasana Ngabuburit di Trans Mall Makassar

Avatar photo

Pengunjung Trans Mall Makassar mendapat suguhan hiburan bernuansa religi jelang berbuka puasa 1447 H pada Minggu (15/3-2026). Memasuki hari ke-25 Ramadan, manajemen Trans menghadirkan beberapa event. Salah satunya penampilan musik Gambus yang dipadukan dengan tarian Sufi Whirling Dervish.

LOPINEWS — Pertunjukan yang digelar diarea lantai satu Food Culinary ini berlangsung sekitar 45 menit sukses menarik perhatian pengunjung. Suasana area kuliner pun menjadi lebih hidup ketika alunan musik gambus berpadu dengan gerakan berputar para penari menghadirkan nuansa spiritual sekaligus hiburan menjelang waktu berbuka.

Banyak pengunjung yang berhenti sejenak untuk menyaksikan pertunjukan tersebut sambil menunggu azan magrib. Acara ini pun menjadi hiburan tersendiri bagi keluarga yang telah bersiap menikmati hidangan berbuka puasa di kawasan kuliner mall tersebut.

Tarian Cinta Sufi – Whirling Dervish

Tari Sufi yang dikenal dengan sebutan Sema merupakan bentuk meditasi aktif dalam tradisi tasawuf Islam. Tarian ini mengekspresikan cinta ilahi kepada Allah dan dipopulerkan oleh tokoh sufi besar, Jalaluddin Rumi. Praktik spiritual ini berakar dari tradisi Sufisme abad ke-13 di kota Konya, Turki, tempat Rumi mengembangkan ajaran dan praktik spiritualnya.

Gerakan berputar dalam tarian ini dilakukan oleh para darwis (dervish) dengan arah berlawanan jarum jam. Penari biasanya berjumlah ganjil. Putaran tersebut bukan sekadar gerakan estetis, melainkan simbol perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan tasawuf, tarian ini adalah sarana meditasi yang menenangkan pikiran sekaligus memperdalam hubungan batin dengan Sang Pencipta.

Menurut sejarahnya, tarian ini lahir dari pengalaman spiritual Rumi setelah berpisah dengan guru rohaninya, Shams Tabrizi. Kesedihan dan kerinduan itu kemudian diekspresikan melalui gerakan berputar yang menjadi simbol cinta dan pencarian ilahi.

Asal-usul dan Perkembangan

Tradisi Whirling Dervish berkembang dari tarekat Mevlevi, yakni kelompok pengikut Rumi yang melestarikan ajaran dan praktik spiritualnya. Hingga kini, tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan religius dan budaya, seperti peringatan Maulid Nabi, bulan Ramadhan, maupun acara kebudayaan.

Meski para penari terus berputar dalam waktu lama, mereka umumnya tidak merasa pusing. Hal ini diyakini sebagai bagian dari latihan meditasi spiritual yang mendalam, di mana fokus batin dan ritme zikir membantu menjaga keseimbangan tubuh.

Seiring waktu, Whirling Dervish tidak hanya dikenal di lingkungan tarekat, tetapi juga menjadi salah satu pertunjukan budaya yang terkenal di dunia. Gerakannya yang khas berpadu dengan lantunan zikir dan musik sufi menjadikannya atraksi spiritual sekaligus artistik.

Perbedaan Istilah Sufi dan Dervish

Meski sering digunakan bersamaan, istilah Sufi dan dervish memiliki makna yang berbeda. Seorang Sufi biasanya dipahami sebagai pribadi saleh yang hidup dekat dengan masyarakat dan mengembangkan spiritualitas yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, dervish sering digambarkan sebagai sosok yang memilih jalan asketis atau menyendiri, melepaskan keterikatan duniawi demi pengabdian penuh kepada Tuhan.

Makna dan Simbolisme

Tarian Sufi sarat dengan simbol spiritual. Gerakan berputar melambangkan perputaran kosmos serta keharmonisan alam semesta. Posisi tangan juga memiliki arti khusus: tangan kanan menghadap ke atas sebagai simbol menerima rahmat Tuhan, sementara tangan kiri mengarah ke bawah sebagai lambang menyalurkan berkah tersebut kepada bumi.

Busana yang dikenakan para penari pun memiliki makna filosofis. Rok putih melambangkan kain kafan yang menandakan “kematian ego”, topi tinggi (sikke) menggambarkan batu nisan, sedangkan jubah hitam melambangkan kubur. Keseluruhan simbol ini mengajarkan pelepasan nafsu duniawi dan proses penyucian diri (tazkiyatun nafs) menuju kedekatan dengan Allah.

Syarat dan Pandangan Keagamaan

Dalam ajaran tasawuf, praktik tarian ini harus dilandasi niat yang tulus serta hati yang bebas dari kepentingan duniawi. Tujuannya semata-mata untuk berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagian kalangan ulama memandang praktik ini dapat diterima selama tidak melanggar syariat, seperti membuka aurat atau bercampur bebas antara laki-laki dan perempuan, serta tetap dipahami sebagai bentuk zikir, bukan sekadar hiburan.

Namun, ada pula pandangan lain yang mengkritik praktik tersebut. Beberapa pihak menilai sebagian ritual dan praktik dalam tradisi Sufi dapat menimbulkan penyimpangan dari ajaran Islam yang dianggap lebih sederhana dan murni. Perbedaan pandangan ini menunjukkan dinamika interpretasi dalam memahami praktik spiritual di dalam Islam.

Refleksi Spiritual

Pada akhirnya, Whirling Dervish bukan sekadar tarian berputar yang memikat mata. Ia adalah simbol perjalanan batin manusia dalam mencari makna hidup dan kedekatan dengan Tuhan. Setiap putaran menggambarkan pelepasan ego, sementara tangan yang terbuka mengingatkan bahwa manusia hanyalah perantara antara langit dan bumi.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh hiruk pikuk, para darwis yang berputar seolah menyampaikan pesan sederhana: ketenangan sejati dapat ditemukan ketika manusia kembali pada pusat hatinya. Seperti putaran yang tak pernah benar-benar berhenti, pencarian manusia akan cinta Ilahi dan kedekatan dengan Sang Pencipta pun terus berlangsung—dalam keheningan, dalam doa, dan dalam cinta yang tak bertepi.